Berita Pohon Sawit Terkini

Siapa yang Mempunyai Perkebunan Minyak Sawit di Indonesia

Siapa yang Mempunyai Perkebunan Minyak Sawit di Indonesia

Beberapa perusahaan besar di Indonesia (seperti Unilever Indonesia) saat ini masih  melakukan serangkaian investasi guna meningkatkan kapasitas penyulingan minyak sawit. Hal ini sesuai dengan ambisi pemerintah Indonesia demi mendapatkan lebih banyak penghasilan dari sumber daya alam dalam negeri.

Seperti dikutip dari reportase indonesia-investments.com, Selasa (24/4), Indonesia selama ini berfokus (dan tergantung) pada ekspor minyak sawit mentah serta bahan baku mentah lainnya. Namun selama beberapa tahun terakhir, pemerintah akan mendorong proses pengolahan produk sumber daya alam agar mempunyai harga jual yang lebih tinggi. Selain itu, langkah tersebut juga dilakukan sebagai penyangga saat meluncurnya harga minyak sawit.

Kapasitas penyulingan di Indonesia melonjak menjadi 45 juta ton per tahun pada awal 2015, naik dari 30,7 juta ton pada tahun 2013, dan lebih dari dua kali lipat kapasitas di tahun 2012 yaitu 21,3 juta ton.

Di Indonesia, terdapat begitu banyak perusahaan besar pemilik lahan kebun kelapa sawit. Seperti Sinar Mas Group (PT. Golden Agri Resources), Wilmar International Group, PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) IV, Astra Agro Lestari Group (PT Astra Agro Lestari Tbk), PT Triputra Agro Persada dan lainnya.

Kebijakan Pajak Ekspor Minyak Sawit Indonesia

Guna meningkatkan perkembangan di industri hilir sektor kelapa sawit, pajak ekspor untuk produk minyak sawit yang telah disuling kemudian dipotong dalam beberapa tahun belakangan ini. Sementara itu, pajak ekspor minyak sawit mentah (CPO) berada di antara 0%-22,5% tergantung pada harga minyak sawit internasional.

Indonesia mempunyai ‘mekanisme otomatis’ sehingga saat harga CPO acuan pemerintah (berdasarkan harga CPO lokal dan internasional) jatuh di bawah 750 dollar Amerika Serikat (AS) per metrik ton, maka pajak ekspor dipotong menjadi 0%. Ini terjadi di antara Oktober 2014 dan Mei 2016 lalu, di saat harga acuan ini jatuh di bawah 750 dollar AS per metrik ton.

Masalahnya, bebas pajak ekspor berarti pemerintah kehilangan sebagian besar pendapatan pajak ekspor yang sangat dibutuhkan dari industri minyak sawit. Maka pemerintah memutuskan untuk mengintroduksi pungutan ekspor minyak sawit di pertengahan 2015.

Pungutan sebesar 50 dollar Amerika Serikat (AS) per metrik ton diterapkan untuk ekspor minyak sawit mentah dan pungutan senilai 30 dollar AS per metrik ton ditetapkan untuk ekspor produk-produk minyak sawit olahan. Pendapatan dari pungutan baru ini digunakan (sebagian) untuk mendanai program subsidi biodiesel pemerintah.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *