Berita Pohon Sawit Terkini

Ini Alasan Kenapa Keberlangsungan Kelapa Sawit Wajib Dilindungi

Ini Alasan Kenapa Keberlangsungan Kelapa Sawit Wajib Dilindungi

Saat ini energi fosil tak bisa dijadikan satu-satunya harapan. Hal ini dikarenakan jumlahnya yang semakin menipis dan efek domino yang berbahaya. Di mana salah satunya adalah efek gas rumah kaca yang mengancam keberlangsungan mahluk hidup lantaran dianggap sebagai salah satu pemicu global warming dan climate change. Jawabannya tentu saja dengan menggunakan sumber energi terbarukan, kelapa sawit adalah salah satu jawabannya. Oleh karenanya sudah saatnya kelapa sawit dilindungi untuk kepentingan bersama.

Menurut Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, Bambang menuturkan dengan melindungi kelapa sawit sama halnya dengan melindungi petani. Hal ini dikarenakan berdasarkan data yang dihimpun pada 2017 total luas perkebunan yang dikelola oleh petani sawit mencapai 5  juta hektar dari total 14,02 juta hektar lahan sawit. Ini tentunya angka yang cukup besar. “Jadi dengan membenahi perkebunan petani sama saja membenahi perkebunan kelapa sawit, karena tidak sedikit kontribusi petani terhadap komoditas kelapa sawit,” terang Bambang.

Bambang pun mengingatkan kepada semua pihak untuk melakukan replanting untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawit. Dari total 5 juta hektar yang dikelola oleh petani, nyatanya 2 juta lahan di antaranya justru sudah tua dan kurang produktif dan bahkan menggunakan benih yang tidak bersertifikat. Hal ini pun membuat porduktivitasnya masih jauh dari harapan atau di bawah potensi seharusnya.

Berdasarkan data dari beberapa sumber, produktivitas tandan buah segar (TBS) perkebunan swadaya hanya mampu menghasilkan 10 hingga 12 ton per hektar per tahun. Padahal semestinya dapat menghasilkan 30 ton per hektare per tahun. “Artinya dengan meningkatkan produktivitas perkebunan petani sama saja dengan meningkatkan kesejahteraan petani,” tegas Bambang.

Melihat fakta tersebut, Bambang pun berencana menganggarkan untuk melakukan replanting perkebunan kelapa sawit milik petani di tahun 2018 ini dengan luas yang mencapai 185 ribu hektar. Namun, untuk melakukan replanting tidaklah semudah membalikkan tangan.

“Sehingga replanting ini menjadi tanggung jawab semua,” tegas Bambang.

 

Wajib Membantu Petani

Bambang pun menegaskan bahwa replanting ini bukan hanya kewajiban bagi petani saja, namun juga bagi negara melalui Pemerintah Daerah dan juga bagi perusahaan yang telah bermitra dengan petani.

“Atas dasar itulah maka ke depan petani wajib bermitra dengan perusahaan sebagai pembeli hasil petani ataupun sebagai bapak angkat,” himbau Bambang.

Sebab, Bambang menerangkan, lahirnya perkebunan kelapa sawit milik petani adalah pola kemitraan atau pola inti rakyat (PIR). Di mana perusahaan sebagai mitra atau inti dari perkebunan milik rakyat tapi bukan pola manajemen satu atap.

Maka, Bambang kembali menghimbau kepada petani, “bagi petani yang sudah bermitra dengan perusahaan sebaiknya dijaga dengan baik atau bila perlu lebih dieratkan kembali. Namun jika perusahaan dirasa petani sudah tidak memihak kepada petani silahkan mencari mitra yang lebih baik. Tapi juga jika perusahaan sudah melakukan hal yang terbaik untuk petani, petani juga jangan menjadi anak yang durhaka.”

Penerapan peningkatan perkebunan kelapa sawit dengan cara replanting yang diberikan kepada petani sawit pun telah diterapkan oleh PT Triputra Agro Persada. Salah satunya yakni replanting yang dilakukan di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Tujuan dari replanting ini tentu saja untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawit secara jangka panjang.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *